Evaluasi Mentoring Lanjutan Ikhwan
2014 :
1. Kelompok tidak bisa tetap,
slalu berubah dan tidak ada pemberitahuan kepada BPM
Mentoring lanjutan adalah level selanjutnya dari
mentoring wajib. Jika kelompok mentoring wajib adalah teman satu kelas, maka
kelompok mentoring lanjutan (menla) berbeda, di dalam satu kelompok menla tidak
saja tidak satu kelas, tapi juga mungkin dari jurusan yang berbeda. Maka
kondisi di lapangan sering terjadi perubahan kelompok menla. Ada yang
menambahkan anggota kelompok dari satu kelasnya, ada yang sama sekali tidak
dikabari jika ada menla, ada yang berpindah kelompok menla. Karena ini bukan
wajib, maka mudah saja terjadi perbedaan kelompok tersebut. Karena menla adalah
pilihan, maka ada dari peserta menla memilih untuk lanjut atau tidak.
2. Tidak ada kurikulum
Berbeda dengan mentoring wajib, menla yang
terlaksana di kampus pada tahun 2014 tidak memiliki kurikulum. Karena BPM waktu
itu ter-mindset untuk memberikan
kuasa penuh menla kepada mentor, sehingga kurikulum atau materi merupakan hak
dari mentor. Mentor dapat memberikan materi apapun. Kondisi ini ternyata tidak
baik untuk sebuah mentoring, karena tidak bisa menilai sejauh mana pencapaian
sebuah kelompok menla.
3. Tidak ada monitoring dari BPM
Karena BPM ter-mindset untuk memberikan kuasa penuh menla kepada mentor, maka
setelah mentor bertemu dengan binaannya, BPM lepas tangan. BPM hanya akan
bertindak ketika ada laporan dari mentor atau binaan. Contoh laporan adalah mentor
tidak bisa meneruskan mentoring, ada tambahan anggota pada kelompok mentoring, dan
sebagainya. Monitoring pada menla seharusnya juga seperti mentoring wajib.
Terdapat sistem dan SOP yang mendukung keterlanjutan mentoring.
4. Kekurangan mentor untuk
mengisi mentoring lanjutan
Karena sistem menla yang kurang baik, kadang
mentor tidak terdaftar dalam database. Mentor menla tidak bisa dikondisikan
atau didata dengan baik. Sehingga BPM tidak mengetahui kinerja mentor-mentor
aktif dan mentor yang tidak ada lagi di kampus (lulus, kerja dan lain-lain). BPM
kekurangan mentor yang terdata sebagai mentor.
5. Publikasi kurang
Walaupun jarak antara mentoring wajib dengan
mentoring lanjutan terlampau jauh, tidak ada publikasi yang cukup untuk promosi
menla. Menla waktu itu terbuka untuk semua outputan mentoring wajib. Siapapun
boleh mendaftar. Tidak ada range
waktu yang jelas untuk pendaftaran menla.
6. Tidak ada pembukaan untuk
menla
Sebenarnya ada pembukaan untuk menla, namanya
reopening bintang. Karena tidak terkonsep dengan baik, maka reopening bintang
2014 hanya dilaksanakan secara sederhana di Masjid Ahmad Yani sebagai pembagian
kelompok mentoring lanjutan dan temu mentor pertama kali.
7. BPM memberikan kuasa penuh
terhadap mentor menla
Kesalahan paling fatal untuk mentoring lanjutan 2014 adalah mindset atau pemikiran kalau mentor
sudah bertemu binaan maka BPM tidak lagi mengurusi. Ini yang membuat menla
tidak berjalan dengan semestinya, karena mentoring tidak ada yang mengontrol
dan monitor. Menla yang tidak berjalan dibiarkan oleh BPM.
Dengan adanya berbagai kelemahan dari mentoring lanjutan tahun 2014,
BPM perlu mengonsep menla lebih baik lagi. Karena menla sama pentingnya dengan
mentoring wajib. Salah satu temanku pernah berkata, “Yang namanya pembinaan itu
pasti ada follow up nya.” Menla
adalah salah satu bentuk followup dari mentoring wajib.
Maka dari itu, penting adanya sebuah konsep yang jelas. Adanya sebuah
sistem dan SOP yang memastikan bahwa mentoring lanjutan telah berjalan dengan
semestinya.
Dari latar belakang di atas, perlu diadakan sebuah rencana strategis
untuk mentoring lanjutan. Dengan tujuan memaksimalkan mentoring lanjutan,
sebagai salah satu bentuk pembinaan di kampus.
Pada tulisan kali ini, aku ingin menjabarkan ide strategis yang mungkin
dapat sedikit mengurangi permasalahan yang terjadi selama mentoring lanjutan.
Berikut adalah ide-ide nya :
1.
Karena sampai saat ini Mentoring
Klasikal belum terlaksana, maka Mentoring Klasikal dapat diadakan di minggu
pertama atau minggu kedua semester genap (Bulan Maret). Dengan perubahan jadwal
tersebut tentunya tidak akan mengubah konsep dan tujuan dari Menkla. Menkla
akan digabung dengan Reopening Bintang alias pembukaan secara resmi mentoring
lanjutan. Menkla akan dikemas sedemikian menarik dan juga harus memberikan
kesan bahwa mentoring lanjutan itu ada. Ada waktu yang lumayan panjang di Bulan
Februari untuk menyiapkan menkla dan publikasi acara tersebut. Sehingga mungkin
ini akan menjadi sebuah trend bagi mentoring di kampus, khususnya untuk angkatan
termuda. Saat semester ganjil ada mentoring wajib, saat semester genap ada
mentoring lanjutan. Yang keduanya terkoordinir dengan baik oleh BPM.
Karena
mentoring lanjutan dibuka saat Menkla, berarti menla mulai diadakan pada
semester genap mendatang, mulai Bulan Maret. Berarti ada range waktu yang lama untuk mengonsep mentoring lanjutan, mulai
dari SOP, sistem monitoring, tool, kurikulum dan sebagainya. Karena ini
mentoring lanjutan yang bersifat “terbuka”, maka juga ada waktu yang lumayan
lama untuk menjaring peserta menla. Selama Bulan Februari juga kita bisa
melakukan branding dan publikasi mentoring lanjutan, sebagaimana yang dilakukan
pada mentoring wajib. Dalam waktu yang lama tersebut pula, BPM dapat mendata
mentor-mentor yang akan bertugas untuk mentoring lanjutan.
Berikut adalah analisa kondisi lingkungan jika Mentoring Klasikal dan
pembukaan Mentoring Lanjutan diadakan pada Bulan Maret.
|
Strength (Kekuatan)
|
Kondisi yang tercapai
|
|
BPM adalah salah satu Badan yang berwenang melaksanakan
mentoring lanjutan dan mengadakan menkla.
|
Konsep dan teknis menla dan menkla dapat disiapkan oleh
BPM.
|
|
Jumlah staf di BPM lebih banyak.
|
Selama persiapan menkla dan menla, setiap staf dapat
saling mengisi dan berbagi pekerjaan.
|
|
Terdapat staf yang bisa membuat desain dan video.
|
Desain dan video dapat digunakan sebagai branding dan
publikasi menkla-menla.
|
|
Staf BPM telah berpengalaman dalam membuat sebuah
kegiatan.
|
Karena BPM memiliki banyak proker event, maka insya
Allah tidak akan kesulitan untuk merancang menkla.
|
|
80% staf BPM adalah mentor.
|
Pengalaman menjadi mentor akan berguna untuk mengonsep
menla.
|
|
Ada staf BPM yang akamsi.
|
Staf tersebut dapat menjadi backup yang bertugas untuk
mengurusi proposal, perijinan dan hubungan dengan kampus.
|
|
BPM memiliki sistem mentoring wajib.
|
Sistem mentoring tersebut dapat dimodifikasi untuk
mentoring wajib.
|
|
BPM terbiasa untuk branding mentoring.
|
Branding tersebut dapat dilakukan untuk menla. Branding
dilakukan selama liburan.
|
|
|
|
|
Weakness (Kelemahan)
|
Solusi
|
|
Staf BPM memiliki banyak amanah.
|
Membuat sebuah timeline lebih awal dan pembagian tugas
yang jelas, sehingga staf yang multi amanah dapat mengatur jadwalnya untuk
mengonsep menkla-menla.
|
|
Kas BPM yang tinggal sedikit.
|
Merancang konsep menkla yang sederhana, tidak butuh
banyak dana tetapi terkesan mewah dan mengena. Atau meminta dana dari
manajemen menggunakan proposal.
|
|
Ada staf yang mengikuti Kerja Praktik.
|
Pembagian tugas yang jelas dan tugas hanya dikerjakan
oleh yang tidak sedang mengadakan kerja praktik. Staf yang KP dapat fokus
untuk mengikuti KP.
|
|
Tidak semua staf akamsi. Dan
kemungkinan pulang kampung selama liburan.
|
Fiksasi kegiatan dilakukan sebelum liburan (akhir
Januari) dan 1 minggu sebelum masuk (akhir Februari). Kegiatan mentoring
klasikal diadakan pada minggu ke-2, sehingga minggu pertama dapat digunakan
untk briefing dan gladi bersih.
|
|
|
|
|
|
|
|
Opportunity
(Peluang)
|
Kondisi
yang tercapai
|
|
Sebelum kegiatan menkla-menla terdapat satu bulan
liburan.
|
Liburan dapat dimanfaatkan untuk mengonsep
menkla-menla, publikasi dan branding kegiatan tersebut, menjaring peserta
menla, mendata mentor menla, membuat kurikulum menla, dan banyak hal.
|
|
Buku mentoring wajib terdapat 13 materi.
|
Sisa materi dapat digunakan sebagai kurikulum mentoring
lanjutan.
|
|
Terdapat gedung teater kampus atau mushola Annahl.
|
Tempat tersebut dapat digunakan sebagai kegiatan
menkla.
|
|
Mentor mentoring wajib memiliki hubungan yang baik
dengan BPM.
|
Mentor yang berkualitas dari angkatan 2013 dapat
berlanjut sebagai mentor menla.
|
|
Terdapat banyak contoh materi dan kurikulum di
internet.
|
Selama liburan, BPM dapat membuat kurikulum menla yang
diambil dari internet.
|
|
Terdapat banyak contoh konsep dan pengemasan kegiatan
yang menarik.
|
Karena waktu yang lama, konsep dan pengemasan menkla
dapat dimaksimalkan.
|
|
Banyak yang bisa menjadi pemateri.
|
Bisa menjadi opsi untuk menkla.
|
|
|
|
|
Threat
(Ancaman)
|
Solusi
|
|
Sebelum kegiatan menkla-menla terdapat satu bulan
liburan, belajar dari liburan Bulan Agustus, bila tidak ada komitmen untuk
memaksimalkan liburan, maka hasilnya tidak akan maksimal. Dan waktu liburan
hanya akan terlewat sia-sia.
|
Membuat timeline yang jelas, membagi tugas secara
jelas, menjaga komitmen staf BPM supaya tetap sesuai tujuan.
|
|
Ada agenda besar di Bulan Maret dan Bulan Mei (SBPC dan
Kajian Akbar), sehingga mungkin bisa sedikit menggambil fokus/kinerja dari
staf.
|
Pembagian tugas dan waktu pengerjaan haruslah tepat,
sehingga tidak membuat staf jenuh dan lelah.
|
|
Waktu liburan.
|
Dapat menjadi bentuk ketidakpedulian staf terhadap
menkla-menla, maka dari itu sejak awal staf diambil komitmen untuk
mensukseskan kegiatan ini.
|
|
Selama Bulan Februari, staf fokus untuk liburan.
|
Akhir januari harus fiksasi publikasi, tanggal, tempat
dan pembagian tugas untuk menkla-menla.
|
Berdasarkan AKL di atas, menkla dan menla lebih baik jika diadakan pada
Bulan Maret, khusus Menkla diadakan pada minggu ke-2. Bulan Februari dapat
dimaksimalkan untuk mengonsep menkla dan menla. PR yang harus segera diselesaikan
:
1.
Konsep umum menkla
2.
Konsep kasar menla
3.
Tanggal fix menkla
4.
Teknis penjaringan peserta menla
5.
Sistem monitoring menla
6.
Database menla
7.
Toolkit menla
8.
Kurikulum menla
9.
...
10.
...
Khusus untuk menla, mengacu
pada evaluasi menla tahun 2014, ada beberapa saran untuk teknis menla :
1.
Selama Bulan Februari diadakan
pendaftaran peserta mentoring lanjutan. Pada bulan tersebut juga dilakukan
branding besar-besaran sama seperti branding mentoring wajib.
2.
Mentor menwa 2014 diberi
kesempatan untuk mengisi mentoring lanjutan, tentunya ada parameternya.
Tujuannya tidak lain untuk mencetak kader-kader yang berkualitas.
3.
Ada hastag untuk mentoring
lanjutan. Ide : #SemangatMentoringLanjutan.
4.
Mentoring lanjutan menggunakan map
dan lembar presensi (sama seperti mentoring wajib).
5.
Ada monitoring dan kontroling
secara berkala dari BPM, untuk menla. Maka dari itu, hubungan antara BPM dan
mentor menla dipererat lagi.
6.
...
7.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar