Udah seminggu lebih setelah UKKI Cup edisi Masak-masak, aku
baru nulis pelajaran yang aku dapetinnya sekarang. Mulai dari pra hari H, hari
H sampe sekarang ternyata ada banyak hal yang bisa aku pelajari dan tentunya
menjadi catatan yang berharga untuk bisa diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
Aku yang semula menanyakan esensi dari kegiatan masak-masak
tersebut, berubah menjadi orang yang berterimakasih karena telah diberi
kesempatan untuk mengikutinya. Layaklah aku menolak, karena awalnya aku
berpikir konsep dan teknis dari kegiatan ini tidak sesuai dengan tujuan UKKI
Cup. Ada beberapa case yang aku tanyakan waktu itu ke staf muda PSDM. Pertama,
bagaimana kalau UKKI Cup malah membuat pecah UKKI karena adanya arogansi di
setiap departemen atau BSO, karena yang namanya kompetisi pasti ingin menjadi
yang terbaik dan kadang ego yang dikeluarkan. Ternyata tidak. Di UKKI Cup malah
kita saling membantu antar departemen, dan BPM yang satu-satunya BSO juga
merasakan bantuan dari teman2 yang lain. Kedua, ini kan kegiatan
masak-masak, tentu yang paling handal adalah para akhowat, lalu yang ikhwan
gimana kalo masaknya ndak enak, rusak, dan sebagainya. Kan jadi mubazir?
Ternyata makanan yang dibuat oleh para ikhwan enak-enak. Ketiga, gimana
kalo nanti misalkan selama masak-masak terjadi hubungan yang tidak seperti
biasanya antara ikhwan dan akhwat, contohnya bersentuhan, bercanda berlebihan,
hingga ada rasa-rasa yang tidak biasa hingga berujung VMJ. Ternyata hal
tersebut dapat diantisipasi.
Ketiga pelajaran tersebut aku dapatkan setelah mencoba untuk
menjawab case yang aku tanyakan. Namun ternyata pelajaran yang didapat
lebih banyak dan berikut adalah pelajaran-pelajaran tersebut :
1. Hidup ini tidak harus diapresiasi, tapi jangan lupa
katakan "Terima Kasih"
Selepas kegiatan UKKI Cup, tepatnya Hari Selasa aku baru
teringat untuk membawa pulang tabung gas LPG yang dipinjam untuk digunakan pada
kegiatan tersebut. Bergegaslah aku menuju Annahl Camp mencari 2 tabung gas yang
kosong. Ternyata memang saat itu tersisa 3 tabung, tapi yang satu masih terisi
gas. Langsung aku bertanya ke orang yang bertanggung-jawab, yang tidak lain
adalah Kadep PSDM.
"Uwes ta iki LPGne?" tanyaku.
"Uwes, monggo digowo" jawabnya
tak acuh.
Pikirku saat itu, yang mendadak kesal karena tidak ada ucapan
terima kasih. Ya walaupun tidak bisa mengantar balik ke rumah minimal ada
sebuah apresiasi atau ucapan yang sedikit menyenangkan hati. Namun aku
berpikir, ya mungkinlah si doi waktu itu lupa.
Kusiapkan tali rafia dan kardus untuk membawa tabung tersebut,
lalu kuambil motorku dari tempat parkir dan kubawa ke dekat Mushola Annahl,
supaya lebih mudah. Saat itu aku dibantu Ian dan Nur.
Singkat cerita aku pulang membawa 2 tabung LPG, satu di depan
dan yang satu kuikat di belakang motor. Ian yang biasanya pulang bareng,
kumintai tolong untuk melihat jikalau tabung yang di belakang mau jatuh. Hingga
sampai perempatan STIKOM, aku dan Ian berpisah, sejauh ini tidak ada masalah
dengan tabung yang kubawa. Namun mendekati rumah, di daerah sekitar Wonorejo,
tabung LPG yang di belakang, jatuh di jalan, hampir mengenai pengendara motor
yang lain. Sesegera mungkin aku berhenti dan mengambilnya.
"Sepuntenne Mas, sepuntenne," ucapku ke orang itu.
"Matur nuwun katah," lanjutku karena telah dibantu untuk mengambilkan
tabung tersebut.
Aku hampir saja merusak motor seseorang dengan tabung yang aku
bawa, dan mungkin saja terjadi kecelakaan yang lebih parah namun orang tersebut
malah mengambilkan tabungku dan aku harus mengucapkan "terima kasih".
Seraya itu juga aku teringat bantuan Ian dan Nur, sesegara mungkin aku mengirim
SMS ke Ian untuk mengucapkan terima kasih.
Memang ada beberapa orang yang tidak membutuhkan ucapan terima
kasih kita, dan hidup tidak slalu penuh apresiasi, namun apa salahnya untuk
mengucapkannya ke orang yang tlah membantu kita?
2. Yang terakhir bertahan adalah orang-orang pilihan
UKKI Cup termasuk kegiatan yang dilaksanakan di akhir
semester, berbeda dengan kegiatan di awal-awal, mengajak staf untuk mengikuti
kegiatan ini merupakan hal yang susah. Karena para staf disibukkan dengan
projek, tugas atau bahkan ada yang pulang kampung.
Semalam sebelum UKKI Cup aku mengonfirmasi kehadiran staf,
namun ya gitu banyak yang nggak bisa. Ada 2 orang yang mengonfirmasi untuk bisa
hadir dan membantu. "Alhamdulillah," batinku.
Esok hari, pagi, aku harus mengantar Nenek pulang ke Desa di
Sidoarjo. Waktu itu aku sama sekali tidak membantu menyiapkan masakan untuk UKKI
Cup, tentulah aku percayakan ke patnerku, Dila.
Jadwal yang tidak kuketahui di awal, membuatku untuk sedikit ngebut
untuk sampai ke kampus. Aku baru mengetahui jam UKKI Cup ketika masih di
Sidoarjo.
"Jam berapa UKKI Cup?" tanyaku lewat SMS.
"Jam sekarang," balas Dila cepat.
Setelah itu aku langsung bergegas pamit dan menuju ke kampus.
Berharap tidak terlambat dan dapat mengikuti masak-masak.
Sesampainya di kampus, tepatnya di kantin. Aku mendapati Uzil
dan Alvin di sana, menyiapkan masakan. Sungguh beruntungnya ada staf ikhwan
yang datang. Mereka orang-orang pilihan. Dari 11 staf muda di BPM, hanya ada 2
yang ikut, sungguh bahagianya aku, daripada tidak ada sama sekali toh?
Kulihat sekeliling, ke arah departemen lain. Ternyata di tiap
departemen juga sedikit staf muda yang datang, 2 atau 3 orang, mungkin yang
paling banyak dari departemen PSDM, tentulah karena ini adalah program kerja
mereka.
Jadi benar-benar mengerucut di orang-orang yang akan
meneruskan UKKI ini. Jadi teringat status FB ku dulu,
Di dalam organisasi, orang-orang yang bertahan harus diberi
apresiasi.
3. Komunikasi yang benar adalah hal yang terpenting
Memasak adalah bakat seorang wanita (akhwat). Lalu apa jadinya
kalau yang ikhwan yang harus memasak dan mendekati kompor?
Untunglah dalam UKKI Cup, para akhwat boleh membantu
menyiapkan bahan-bahan, sehingga yang ikhwan tinggal memasaknya.
Saat itu, ketika akan memasak .... (apa ya namanya, aku lupa
haha), pokoknya bahan-bahannya : bihun, jamur, sayur, telor, dll dll. Kami,
para ikhwan BPM harus mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh para
akhwat, mulai dari mana yang harus dimasukkan terlebih dahulu, cara-cara
memasak yang benar dan sebagainya.
Untuk mendapatkan masakan yang enak dan sesuai ekspektasi, di
antara kami harus ada komunikasi yang baik dan benar. Apa jadinya kalau kami
tidak memahami maksud dari yang akhwat untuk memasak? Pasti bakal berantakan.
Dan itu terjadi! Ketika memasak ...., kami (ikhwan)
kebingungan. Mulai dari bumbu yang lupa dimasukkan karena yang akhwat lupa
memberi tahu, hingga bihun yang hampir lengket di wajan. Duh. Tapi ending nya
masakan kami jadi enak. The power of coba-coba.
4. Tentukan waktu yang tepat
Nyambung dengan poin ke-3. Untuk memasak ....., harus benar
urutannya. Seharusnya memasukkan bumbu, telor dan jamur duluan dan bihun
belakangan, namun kami memasukkan minyak, telor dan bihun duluan. Sehingga
jamur yang belum terlalu matang, bihun yang tak berbentuk lagi dan sudah mulai
keras hingga kami harus menambahkan air.
Sama seperti kehidupan, ada hal-hal yang butuh waktu lama
untuk mengurusinya ada juga yang butuh waktu sedikit. Ada yang memiliki
prioritas tinggi, ada juga yang bisa dikesampingkan.
Atau juga dalam pembinaan, ada orang yang butuh waktu lama
untuk di-kader, ada juga orang yang dengan mudahnya memahami maksud dari sang
peng-kader.
Semuanya harus sesuai waktunya, harus tepat dan sesuai urutan,
sehingga menghasilkan masakan yang enak. Eh.
5. Kemenangan dan keberhasilan kita belum tentu usaha
kita sendiri
"Dikandani koq, UKKI Cup iku gawe departemen."
ucapku waktu itu mencoba bercanda ke temen2 di BPM, satu-satunya BSO di UKKI.
Entah disengaja atau tidak, BPM tidak kebagian kompor dan
tabung LPG untuk memasak. Waktu itu ada sisa, tapi rusak. Maka dari itu, kami
mengupayakan untuk meminjam perlengkapan memasak dari departemen lain. Kompor,
tabung, wajan, panci, dan lainnya merupakan bantuan dari departemen lain.
Sehingga kami harus berganti-ganti tempat untuk memasak. Bantuan silih
berganti.
Tidak hanya bantuan berupa perlengkapan masak, salah satu staf
medinfo, Eren, membantu BPM dalam memasak ..... Karena waktu itu kami
kebingungan dengan intruksi yang disampaikan oleh akhwat. Fail di
awal, tapi Sweet di akhir. Rasa masakan kami awalnya aneh, hingga
akhirnya kami memasukkan segala macam bumbu sampai rasanya enak. Eren tidak
berhenti mengaduk masakan hingga matang.
Singkat cerita, jadilah 2 masakan dari BPM. Atas bantuan
temen2 di departemen yang lain.
Dan akhirnya BPM meraih juara ke-3 dari UKKI Cup. Dari situ,
aku belajar bahwa kadang kemenangan dan keberhasilan kita bukan murni dari
usaha kita sendiri, ada orang-orang yang merelakan yang dimilikinya,
mengorbankan dirinya untuk membantu kita.
Mungkin tidak usah berpikir jauh-jauh ke dalam kehidupan, di
dalam organisasi banyak kita jumpai. Ada orang-orang yang menjadi timekeeper,
membantu publikasi, mencarikan dana, memberi sumbangan uang dan sebagainya
dengan harapan supaya kegiatan kita dapat berjalan sukses dan sesuai keinginan.
Namun kadang kita melupakan hal tersebut, dan lupa untuk berterima kasih.
Jangan sampai kita menjadi orang yang seperti ini.
6. Jangan berikan pekerjaan ke orang yang tidak ahli
di bidangnya
Mungkin dari kegiatan UKKI Cup masak-masak dengan peraturan
ikhwan yang harus memasak, temen2 dari PSDM UKKI ingin menyampaikan sesuatu
yaitu
"Jika urusan diserahkan kepada yang bukan
ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya" (HR Bukhari)
Mungkin ada beberapa ikhwan yang jago memasak,
tapi sebagian besar tidak bisa. Maka dari situ ada dua kemungkinan, pertama
kita harus menyerahkan tugas memasak itu ke orang yang ahli atau kemungkinan
kedua, kita harus berusaha untuk menjadi ahli untuk memasak, dengan tetap
memasak sebagai pengalaman pertama kita.
Maka, mengenai amanah, kita harus memilih
memberikannya ke orang yang benar-benar ahli atau membiarkan orang lain (yang
bukan ahlinya) belajar dari amanah tersebut. Itulah pilihannya.
7. Kebersamaan itu indah
Mendekati akhir UKKI Cup, salah satu staf ahli BPM, Faisal
datang. Walaupun tidak ikut membantu, kehadirannya cukup membahagiakan karena
setelah itu ada makan bersama.
Makan bersama antar pengurus UKKI selepas berkompetisi UKKI
Cup menjadi momen berharga tersendiri. Karena momen itu menjadikan kita satu
kembali. Satu UKKI. Kebersamaan kita indah.
Memakan hasil masakan buatan kita dan saudara kita, sehingga
tahu perjuangan untuk menghasilkan hidangan yang lezat. Tidaklah seseorang itu
mengerti (lebih) perasaan saudaranya sebelum ia makan bersama, tidur bersama
dan berpergian bersama.
*Itulah sedikit pelajaran yang aku dapatkan, tentulah masih
banyak yang belum tertuliskan, namun dari sini aku ingin mengucapkan terima
kasih kepada teman-teman PSDM UKKI kampus karena telah menghadirkan kegiatan luar
biasa ini, sehingga aku bisa mempelajari banyak hal. Salam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar