Milih staf yang loyal atau berkualitas?
Sebuah pertanyaan yang Alhamdulillah, seolah-olah aku telah menemukan jawabannya.
Di dalam renunganku, hari ini, 29 Juli 2014 di desa asal Ibuku. Aku menemukan jawaban yang selama ini aku cari. Jawaban yang berupa pertanyaan ini tidak sengaja terbesit di kepalaku, ketika aku tak mendapatkan jawabannya dari orang-orang yang hebat yang telah kutanyai.
Jawabannya adalah :
Lebih mudah membentuk staf loyal atau berkualitas?
Pertanyaan tersebut adalah jawaban dari pertanyaanku sebelumnya. Ya! Kita tidak boleh munafik bahwa kita menginginkan kedua kriteria staf tersebut, baik loyal ataupun berkualitas. Namun, tidak semua orang memilikinya, maka itulah tantangan bagi para staf ahli (dari ketua, presiden, direktur sampai kadep) untuk bisa membentuk stafnya.
Jika kita merasa sangat mudah untuk menjadikan staf loyal, maka kita pilih yang berkualitas, tapi jika kita begitu ahli membentuk staf yang berkualitas, kita pilih staf yang loyal.
Sehingga, PR kita lebih mudah, hanya perlu belajar bagaimana caranya untuk mencetak staf yang loyal dan berkualitas, daripada kita repot-repot menganalisa kebutuhan organisasi kita, melakukan uji coba terhadap calon staf, membuat komposisi staf idaman dan sebagainya. Yang kita butuhkan adalah teknik mencetak kader yang militan.
Sampai sini pun ada permasalahan yang cukup dasar, mungkin orang-orang yang baru membaca tulisan ini sudah dapat membuat penilaian dan kesimpulan. Yaitu, loyal dan berkualitas tidak dapat dinilai sejak awal. Loyal berarti patuh dan setia, lalu mana mungkin bisa kita menilai staf yang belum teruji? Apalagi berkualitas, mana mungkin kita tahu kualitas staf yang belum bekerja dengan kita? Itulah kuncinya, sejatinya pertanyaan yang aku pertanyakan itu bias.
Bukan loyal atau berkualitas yang menjadi penilaian kita, tapi potensi yang ada dari staf yang kita perhatikan. Siapa yang berpotensi untuk loyal dan siapa yang berpotensi untuk berkualitas, dan di antara kedua sifat tersebut mana yang lebih kita pilih sesuai kemampuan kita dalam menjadikannya loyal dan berkualitas. Dan yang kita pelajari adalah membentuk staf yang sulit untuk diarahkan menjadi loyal dan berkualitas.
Namun, semua itu adalah seni. Tidak ada sebuah cara yang pas untuk melakukannya. Jadi,
Selamat Berkreasi!
Sebuah pertanyaan yang Alhamdulillah, seolah-olah aku telah menemukan jawabannya.
Di dalam renunganku, hari ini, 29 Juli 2014 di desa asal Ibuku. Aku menemukan jawaban yang selama ini aku cari. Jawaban yang berupa pertanyaan ini tidak sengaja terbesit di kepalaku, ketika aku tak mendapatkan jawabannya dari orang-orang yang hebat yang telah kutanyai.
Jawabannya adalah :
Lebih mudah membentuk staf loyal atau berkualitas?
Pertanyaan tersebut adalah jawaban dari pertanyaanku sebelumnya. Ya! Kita tidak boleh munafik bahwa kita menginginkan kedua kriteria staf tersebut, baik loyal ataupun berkualitas. Namun, tidak semua orang memilikinya, maka itulah tantangan bagi para staf ahli (dari ketua, presiden, direktur sampai kadep) untuk bisa membentuk stafnya.
Jika kita merasa sangat mudah untuk menjadikan staf loyal, maka kita pilih yang berkualitas, tapi jika kita begitu ahli membentuk staf yang berkualitas, kita pilih staf yang loyal.
Sehingga, PR kita lebih mudah, hanya perlu belajar bagaimana caranya untuk mencetak staf yang loyal dan berkualitas, daripada kita repot-repot menganalisa kebutuhan organisasi kita, melakukan uji coba terhadap calon staf, membuat komposisi staf idaman dan sebagainya. Yang kita butuhkan adalah teknik mencetak kader yang militan.
Sampai sini pun ada permasalahan yang cukup dasar, mungkin orang-orang yang baru membaca tulisan ini sudah dapat membuat penilaian dan kesimpulan. Yaitu, loyal dan berkualitas tidak dapat dinilai sejak awal. Loyal berarti patuh dan setia, lalu mana mungkin bisa kita menilai staf yang belum teruji? Apalagi berkualitas, mana mungkin kita tahu kualitas staf yang belum bekerja dengan kita? Itulah kuncinya, sejatinya pertanyaan yang aku pertanyakan itu bias.
Bukan loyal atau berkualitas yang menjadi penilaian kita, tapi potensi yang ada dari staf yang kita perhatikan. Siapa yang berpotensi untuk loyal dan siapa yang berpotensi untuk berkualitas, dan di antara kedua sifat tersebut mana yang lebih kita pilih sesuai kemampuan kita dalam menjadikannya loyal dan berkualitas. Dan yang kita pelajari adalah membentuk staf yang sulit untuk diarahkan menjadi loyal dan berkualitas.
Namun, semua itu adalah seni. Tidak ada sebuah cara yang pas untuk melakukannya. Jadi,
Selamat Berkreasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar